Sabtu, 21 Januari 2012

laporan Gudang

Diposkan oleh LonelynDa di 23.03

Praktikum Penyimpanan dan Penggudangan


KUMPULAN LAPORAN MODUL 1 - 6

Oleh :
KELOMPOK 2

ENDA YULINA
0805106010016


ASISTEN : SANDY AFRIZA

 







LABORATORIUM TEKNIK PASCA PANEN
JURUSAN TEKNIK PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
2012
Laporan Praktikum Penyimpanan dan Penggudangan


KULTUR SERANGGA HAMA GUDANG

Oleh :
KELOMPOK 2

ENDA YULINA
0805106010016


ASISTEN : SANDY AFRIZA

 







LABORATORIUM TEKNIK PASCA PANEN
JURUSAN TEKNIK PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
2012
TINJAUAN PUSTAKA


Serangga yang menjadi hama gudang memiliki karakteristik tertentu dalam memilih pakan yang sesuai untuk ekologis dan fisiologinya. Hal ini memberikan asumsi manusia dalam membedakan jenis hama-hama yang dapat menyerang komiditas tertentu. Begitu juga dengan keadaan fisik bahan simpanan hasil panen, manusia juga menyadari akan adanya karakteristik hama yang hanya dapat menyerang hasil dalam keadaan bentuk tertentu, sebagai contoh simpanan dalam bentuk utuh dan olahan misalnya tepung (Nyoman, 2005).
Hama merupakan semua binatang yang aktifitasnya menimbulkan kerusakan pada tanaman dan menimbulkan kerugian secara ekonomis. Salah satu jenis hama yang menyerang tanaman adalah hama jenis serangga (Insekta). Jenis hama serangga tidak hanya dijumpai di ladang ataupun di sawah, akan tetapi hama serangga dapat pula di jumpai pada bahan-bahan simpanan di gudang.  Berbagai serangga yang telah dilaporkan dapat terinfestasikan dan tersebar pada komoditas yang disimpan digudang. Serangga-serangga hama yang biasanya ditemukan digudang penyimpanan biji-bijian misalnya kumbang Lasioderma serricorne,Stegonium paniceum, Araerus fasculatus De geer, Rhyzopertha dominica, Sitophilus spp. Triboliumcastaneum  (Herbst), Corcyra cephalonica, Ephestia cautella (Rioardi, 2009).

Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk membiakkan serangga hama pada stadia hidup yang berbeda.

Cara Kerja
1.      Dibersihkan botol dan disterilkan.
2.      Dimasukkan 50 gram tepung sebagai media biakan.
3.      Disiapkan kain kasa dan karet pengikat untuk menutup mulut botol tersebut.
4.      Ditimbang bahan yang terinfestasi serangga hama sebanyak 100 gram.
5.      Dituang bahan ke dalam ayakan untuk mengamati serangga hama dan memudahkan pengumpulan serangga dewasa.
6.      Dipilh 20 ekor serangga hama dewasa, dipindahkan ke dalam botol biakkan.
7.      Ditutup dengan kain kasa dan diikat dengan karet.
8.      Setelah 4 hari, dipindahkan induk serangga hama ke botol yang lain.
9.      Diamati perubahan yang terjadi selang 2 hari.
10.  Setelah larva terbentuk, dihitung jumlah larva tersebut, larva yang sudah dihitung dipindahkan ke botol yang lain dengan menggunakan pinset.






















HASIL DAN PEMBAHASAN


A.    Data Hasil Pengamatan
     Adapun data hasil pengamatan dapat dilihat pada Lampiran 1.

B.     Pembahasan
Data hasil pengamatan dari praktikum yaitu membandingkan  antara jumlah serangga hama yang terdapat pada media tepung terigu, tepung beras dan beras putih. Pada hari pertama hama yang terdapat pada media tepung terigu yaitu berjumlah 20 serangga, kemudian pada hari ke-5 jumlah serangga berkurang menjadi 16 ekor, hal ini disebabkan karena ada sebagian serangga yang mati dan tidak terjadi perkembangbiakan.
Begitu juga pada tepung beras, jumlah serangga pada hari pertama berjumlah 20 ekor serangga, kemudian pada hari ke-5 serangga masih berjumlah 20 ekor, hal ini disebabkan tidak ada serangga yang berkembangbiak.
Pada beras, jumlah serangga pada hari pertama yaitu 20 ekor serangga, pada hari ke-5 masih berjumlah 20 ekor, hal ini disebabkan tidak ada serangga yang berkembang biak pada media beras. Jadi dapat disimpulkan bahwa ketiga media ini kurang cocok untuk jenis serangga ini.











KESIMPULAN


Dari hasil praktikum dapat disimpulkan, bahwa :
1.      Spesies hama gudang yang terdapat pada media tepung terigu berkurang pada hari ke-5 hal ini disebabkan karena suhu optimum dan RH yang didapat sesuai dengan hama gudang tersebut, sedangkan pada media tepung beras dan media beras hama tidak dapat berkembang biak pada hari ke-5. Hal ini disebabkan karena suhu optimum dan RH yang didapat tidak sesuai dengan hama gudang tersebut.
2.      Kondisi optimum bagi pertumbuhan serangga tersebut meliputi suhu dan RH.
3.      Pada ketiga media tersebut, perkembangbiakan hama tidak cocok dilakukan, karena mungkin jenis serangga tersebut bukanlah jenis serangga yang hidup pada media tersebut.

















Lampiran 1.
Tabel 1. Data hasil pengamatan praktikum.
Hari ke-
Tanggal
Jumlah serangga
Catatan Pengamatan
Media Tepung Terigu
1
2 januari 2012
20
Hama disimpan pada media tepung terigu
5
7 Januari 2012
16
Hama mati pada hari ke-5
Media Tepung Beras
1
2 januari 2012
20
Hama disimpan pada media tepung beras
5
7 Januari 2012
20
Hama tidak berkembang biak pada hari ke-5
Media Beras
1
2 januari 2012
20
Hama disimpan pada media beras
5
7 Januari 2012
20
Hama tidak berkembang biak pada hari ke-5












Lampiran 2.


        
   Gambar 1. Serangga dalam botol


 
     Gambar 2. Pemilihan serangga pada biji jagung

Laporan Praktikum Penyimpanan dan Penggudangan


IDENTIFIKASI PENYUSUTAN BAHAN PANGAN

Oleh :
KELOMPOK 2

ENDA YULINA
0805106010016


ASISTEN : SANDY AFRIZA

 







LABORATORIUM TEKNIK PASCA PANEN
JURUSAN TEKNIK PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
2012
TINJAUAN PUSTAKA


Dalam pengertian sehari-hari, biasanya istilah susut hanya diartikan sebagai bagian berat (bobot) yang hilang karena adanya suatu proses. Pada pengertian lain, susut diartikan sebagai bagian hasil yang masih tersembunyi atau belum dapat terjangkau untuk diperoleh. Pada kenyataannya istilah susut ini mengandung pengertian yang lebih komplek yang bukan hanya menyangkut masalah kualitas dan masalah kuantitas, tetapi juga menyangkut masalah biaya, tenaga dan waktu (Semangun, 1993). 
Yang dimaksud susut kuantitas yaitu kesusutan yang jelas terjadi dan dapat diukur dengan satuan berat. Sebagai contoh butir-butiran gabah yang `tercecer di sawah pada saat atau setelah pemanenan. Susut kualitas yaitu kesusutan dengan berakibat mengurangi harga serta menurunkan nilai gizi dari bahan pangan tersebut. Biasanya terjadi peristiwa susut yang berkaitan antara susut kualitas, kwantitas, biaya, tenaga dan waktu (Flint, 1990).
Susut lepas panen adalah seluruh kesusutan baik kuantitas maupun kualitas yang terjadi sejak panen sampai akhirnya ke konsumen, meliputi tahap-tahap pemanenan hasil, pengepakan dan distribusi makanan tersebut (Hartono, 1993).

Tujuan
Adapun tujuan pada praktikum ini adalah untuk membiakkan, mengenal berbagai jenis kerusakan bahan pangan.

Cara Kerja 1.
1.      Ditimbang bahan masing-masing sebanyak 25 gram.
2.      Dilakukan sortasi memisahkan biji utuh dan biji rusak, hitung dan catat jumlahnya.
3.      Diulangi langkah 1 dan 2 sebanyak 5 kali.
4.      Dicatat bentuk kerusakan lain yang terjadi.
5.      Dilakukan analisa kerusakan lain yang terjadi.
Cara Kerja 2.
1.      Ditimbangkan bahan rusak masing-masing sebanyak 50 gram.
2.      Dilakukan sortasi memisahkan biji pecah, biji berlubang, dan biji berjamur, dihitung dan dicatat jumlahnya.
3.      Diulangi langkah 1 dan 2 sebanyak 5 kali.
4.      Dilakukan analisa dan diberikan kesimpulan.


HASIL DAN PEMBAHASAN


A.    Data Hasil Pengamatan
            Data hasil pengamatan dapat dilihat pada Lampiran 1.
B.     Pembahasan
Data hasil pengamatan pada cara kerja pertama dari praktikum yaitu pada ulangan 1 jumlah total biji jagung yaitu 25 gram, jumlah rusak 6 gram, jumlah bagus 19 gram dan % rusak 6%. Pada ulangan 2 dengan ulangan 1 yaitu jumlah total biji jagung yaitu 25 gram, jumlah rusak 1 gram, jumlah bagus 24 gram dan % rusak 1%. Pada ulangan 3 jumlah total biji jagung yaitu 25 gram, jumlah rusak 1 gram, jumlah bagus 24 gram dan % rusak 1%. Pada ulangan 4 jumlah total biji jagung yaitu 25 gram, jumlah rusak 4 gram, jumlah bagus 21 gram dan % rusak 4%.
Data hasil pengamatan cara kerja 2 dari praktikum yaitu pada ulangan 1 jumlah total nya 16 gram, total % nya 16%, jumlah biji pecah 10 gram, % biji pecahnya 10%, jumlah biji berlubang 2 gram, % biji berlubang 2 %, jumlah biji berjamur 4 gram dan % biji berjamur 4%.




KESIMPULAN


1.      Pada identifikasi kerusakan dari jumlah total biji jagung  25 gram, persentase yang banyak mengalami kerusakan yaitu pada ulangan ke-1 dan persentase kerusakan terkecil adalah pada ulangan ke-2 dan ke-3.
2.      Pada identifikasi jenis kerusakan dari jumlah total biji jagung yang rusak 16 gram. Persentase terbanyak pada biji pecah dengan jumlah 10 gram dan jumlah persentasenya adalah 10%.

















Lampiran 1.
Tabel 1. Data hasil pengamatan identifikasi kerusakan.
Ulangan
Jumlah total
Jumlah rusak
Jumlah bagus
% rusak
1
25 gram
6 gram
19 gram
6 %
2
25 gram
1 gram
24 gram
1%
3
25 gram
1 gram
24 gram
1%
4
25 gram
4 gram
21 gram
4%

Tabel 2. Data hasil pengamatan identifikasi jenis kerusakan.
Ulangan
Total
Biji pecah
Biji berlubang
Biji berjamur
jumlah
%
jumlah
%
jumlah
%
jumlah
%
1
16 gram
16%
10 gram
10%
2 gram
2%
4 gram
4%















Praktikum Penyimpanan dan Penggudangan


SISTEM PENYIMPANAN KARUNG (BAG PACK)

Oleh :
KELOMPOK 2

ENDA YULINA
0805106010016


ASISTEN : SANDY AFRIZA

 







LABORATORIUM TEKNIK PASCA PANEN
JURUSAN TEKNIK PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
2012
TINJAUAN PUSTAKA

Dalam proses penyimpanan, setiap bahan dan produk jadi tersebut akan berpeluang terjadi kerusakan. Kerusakan tersebut dapat berupa kerusakan fisik ataupun kerusakan kimia dan biologis. Kerusakan fisik dalam penyimpanan bisa saja menjadi pemicu untuk kerusakan secara kimia dan biologis. Oleh sebab itu, sifat fisik suatu bahan sangat penting untuk diketahui terlebih dahulu sebelum dilakukan penyimpanan terhadap bahan. Sifat fisik bahan tersebut meliputi kadar air, berat jenis, aktivitas air, sudut tumpukan, kehalusan bahan, kerapatan tumbukan, kerapatan pemadatan bahan, dan lain sebagainya  (Soesarsono, 1988).
Penyimpanan karung bertujuan untuk memudahkan identifikasi stok bahan yang disimpan. Inspeksi dapat dilakukan setiap saat sehingga sanitasi dan control perubahan cuaca dapat lebih efektif. Aspek yang harus diperhatikan untuk peletakan tumpukan karung adalah system tumpukan dengan jumlah dan ukuran yang telah ditentukan yang disertai adanya fumigasi, menggunakan hamparan/palet/flonder untuk membantu sirkulasi udara dan mencegah kerusakan lantai, dan memperhatikan kapasitas gudang penyimpanannya (Supriyono, 2003).
Saat ini, fungsi utama penyimpanan secara ekonomis adalah mengurangi fluktuasi pasar. Suplai berlebih berbagai komoditi umumnya hanya terjadi beberapa bulan selama setahun, sementara permintaan konsumen boleh dikatakan cenderung tetap sepanjang tahun .Pada gudang Bulog, pola penyusunan karung yang biasa digunakan adalah kunci lima dan bata mati (Rokhani, 2009).









Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui cara penyusunan karung.

Cara Kerja
1.      Ditimbang sekam padi dalam plastik volume 1 kg sampai penuh, dicatat beratnya dan diklem dengan menggunakan api lilin.
2.      Diulangi langkah 1 sampai tersedia 20 kantung sekam.
3.      Diaplikasikan metode penyusunan kunci lima, diamati dan dianalisa.
4.      Diaplikasikan metode penyusunan bata mati, diamati dan dianalisa.





















HASIL DAN PEMBAHASAN


A.    Data Hasil Pengamatan
Data hasil pengamatan dapat dilihat pada Lampiran 1.

B.     Pembahasan
Data hasil pengamatan dari praktikum yaitu penyimpanan merupakan suatu usaha untuk melindungi bahan pangan dari beberapa faktor kerusakan. Tumpukan karung biasanya mempunyai 2 pola penyusunan, yaitu pola penyusunan kunci lima dan pola penyusunan bata mati. Dari kedua pola tersebut sama-sama teknik penyimpanan yang sangat menguntungkan, dikarenakan pola ini lebih memperhatikan sirkulasi udara dalam ruang yang menjadi ancaman bagi bahan pangan terutama dalam kelembaban bahan tersebut. Dengan adanya pola tersebut banyak penyimpanan karung menggunakan metode tersebut.

KESIMPULAN

1.      Karung juga dapat menimbulkan kelembaban apabila karung terkena air yang dapat mengakibatkan kerusakan pada tepung dalam metode penyimpanan.
2.      Penggunaan kemasan karung dalam penyimpanan tepung dapat dengan mudah terserang hama, dan untuk menghindari serangan hama dan perkembangan hama diperlukan fumigasi secara teratur.






Praktikum Penyimpanan dan Penggudangan


TEKNIK PEMBUATAN FLONDER

Oleh :
KELOMPOK 2

ENDA YULINA
0805106010016


ASISTEN : SANDY AFRIZA

 







LABORATORIUM TEKNIK PASCA PANEN
JURUSAN TEKNIK PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
2012
TINJAUAN PUSTAKA


Flonder atau palet sangat penting diperhatikan dalam proses penyimpanan bahan pangan digudang. Fungsinya adalah untuk memperlancar sirkulasi udara, memudahkan proses pembersihan, menghindari kelembaban, dan mencegah bersarangnya sarang tikus. Flonder dapat dibuat dari bahan baku kayu dengan bentuk yang bervariasi. Saat ini flonder plastic juga sudah dikembangkan (PHKI, 2010).
Palet adalah bahan kemasan yang sering digunakan untuk menyimpan dan mengangkut barang dari gudang ke distributor. Palet ada yang terbuat dari plastik dan ada pula yang dari kayu. Pallet kayu sering digunakan karena murah, fleksibel dan mudah diperbaiki. Produksi yang cepat dan kemampuan yang handal dalam menahan beban adalah dua faktor tambahan saat memilih palet kayu. Tidak seperti pallet yang terbuat dari plastik, jika palet kayu rusak, perbaikan dapat dilakukan untuk mengembalikan mereka ke kondisi semula sehingga dapat digunakan kembali seperti biasa. Banyak model pallet kayu dibuat dari berbagai jenis papan dan balok, sehingga hanya papan atau balok yang rusak saja yang diganti atau dihilangkan. Jika palet plastik retak atau pecah, perbaikan tidak sesederhana karena materi harus dilelehkan dan  remolded dalam rangka perbaikan dan bisa jadi hal ini akan menimbulkan penurunan kualitas palet (PHKI, 2010).
Industri palet banyak berkembang di Kabupaten Bekasi. Jumlah tenaga kerja pada jenis industri ini bervariasi antara 1-4 orang (56%), 5-19 orang (36%), dan lebih dari 20 orang (8%). Sebesar lebih dari 40% asal bahan baku yang digunakan untuk menunjang jenis usaha ini berasal dari kawasan industri, sedangkan sisanya berasal dari luar kawasan industri di dalam Kabupaten Bekasi, dan berasal dari luar Kabupaten Bekasi. Lebih dari 70% hasil produksi dipasarkan ke luar kawasan industri, walaupun tetap berada di Kabupaten Bekasi (PHKI, 2010).

Tujuan
            Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui cara pembuatan flonder.

Cara Kerja
1.      Dipotong kayu plat sepanjang 50 cm sebanyak 7 buah.
2.      Dibuat flonder mengikuti pola berikut.
 




                                                                                         15cm
 

                        10cm
Pembahasan
Berdasarkan  hasil pengamatan , cara pembuatan flonder ini sangatlah mudah apabila kita sudah memiliki keahlian khusus. Namun kadang-kadang juga walaupun tidak memiliki keahlian khusus, sebagian orang juga dapat membuat flonder dengan bentuk yang bervariasi. Pembuatan flonder ini bertujuan sebagai tempat peletakan berbagai jenis kemasan karung, baik itu biji-bijian ataupun kemasan lainnya, dengan tujuan lain adalah sebagai sirkulasi udara sebagaiman sudah dijelaskan pada tinjauan pustaka diatas.

Kesimpulan
1.      Flonder berfungsi untuk memperlancar sirkulasi udara, memudahkan proses pembersihan, menghindari kelembaban, dan mencegah bersarangnya hama tikus.
2.      Flonder biasanya terbuat dari kayu-kayu keras, dengan tujuan agar dapat menahan beban yang sangat berat, seperti menahan beban tumpukan beras dalam beberapa ton. Selain dari kayu juga terdapat flonder yang dibuat dari plastik.
Praktikum Penyimpanan dan Penggudangan


IDENTIFIKASI SERANGGA HAMA GUDANG

Oleh :
KELOMPOK 2

ENDA YULINA
0805106010016


ASISTEN : SANDY AFRIZA

 







LABORATORIUM TEKNIK PASCA PANEN
JURUSAN TEKNIK PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
2012
                                                TINJAUAN PUSTAKA

Hama adalah suatu makhluk hidup yang dapat merusak tanaman dan bahan pangan, hama tersebut berkembang dengan sangat pesat dan harus diberantas karena dapat merugikan orang banyak. Hama gudang merupakan organisme yang dapat menyebabkan penyusutan kualitatif dan kuantitatif dari bahan pangan yang disimpan. Penyusutan kualitatif yaitu kerusakan yang terjadi karena perubahan biologi, fisik, kimia, dan biokimia serta penyusutan kuantitatif adalah kehilangan jumlah bobot bahan akibat penanganan pascapanen yang tidak professional dan gangguan biologi (
Salah satu hal yang perlu di perhatikan adalah ketika tepung tersebut di simpan akan timbul yang namanya serangga ataupun kutu tepung yang terjadi karena beberapa faktor intern dari jagung itu sendiri, antara lain: kadar air dan lingkungan tempat tepung di simpan serta beberapa jenis mikroba. Mikroba perusak bahan pangan adalah bakteri, kapang, khamir. Selain itu faktor yang sangat berperan dalam kerusakan bahan pangan adalah hama serangga dan tikus. Mekanisme penyerangan hama-hama tersebut berbeda satu sama lainnya (Dragon, 2011).
Ordo Coleoptera adalah kelompok serangga yang paling banyak anggotanya dan hampir semua relung ekologis dalam penyimpanan dapat dimamfaatkan olehnya. Famili bruchidae, bostrichidae dan curculionidae berperan sebagai hama primer, sedangkan hama sekunder banyak yang merupakan anggota famili cucujidae, silvanidae dan tenebrionidae. Beberapa famili misalnya cleridae dan dermestidae menyerang bahan simpan hewani (Wordpress, 2008).





Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengidentifikasikan serangga hama gudang.

Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan, jenis serangga yang kami amati pada biji jagung merupakan serangga Sitophilus granarius. Dengan panjang 5 mm dan lebar 2.5 mm, dan Trogoderma granarium dengan panjang 3.5 mm dan lebar 1.5 mm.

Kesimpulan
1.      Pengendalian hama dan penyakit merupakan keharusan untuk memproduksi hasil yang berkualitas tinggi.
2.      Serangga hama gudang mengalami metamorfosis yang sempurna, yaitu dari telur, larva, pupa, dan imago.
3.      Hama penyebab rusaknya bahan pangan yaitu : khamir, hama serangga, kapang, bakteri (virus), dan binatang pengerat (rodents) seperti tikus, dan lain sebagainya.
4.      Tepung beras yang telah lama disimpan akan busuk dan menimbulkan bau tengik, akibat dari kurangnya penanganan pascapanen yang belum professional serta terkena gangguan biologi.












Praktikum Penyimpanan dan Penggudangan


KUNJUNGAN KE GUDANG DOLOG LAMBARO

Oleh :
KELOMPOK 2

ENDA YULINA
0805106010016


ASISTEN : SANDY AFRIZA

 







LABORATORIUM TEKNIK PASCA PANEN
JURUSAN TEKNIK PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
2012
TINJAUAN PUSTAKA



Jika ditelusuri, sejarah Bulog tidak dapat terlepas dari sejarah lembaga pangan di Indonesia sejak zaman sebelum kemerdekaan sampai pemerintahan sekarang ini. Secara umum tugas lembaga pangan tersebut adalah untuk menyediakan pangan bagi masyarakat pada harga yang terjangkau diseluruh daerah serta mengendalikan harga pangan di tingkat produsen dan konsumen. Instrumen untuk mencapai tujuan tersebut dapat berubah sesuai kondisi yang berkembang (Bulog, 2012).
Berdasarkan hasil kajian, ketentuan dan dukungan politik DPR RI, disimpulkan bahwa status hukum yang paling sesuai bagi Bulog adalah Perum. Dengan bentuk Perum, Bulog tetap dapat melaksanakan tugas publik yang dibebankan oleh pemerintah terutama dalam pengamanan harga dasar pembelian gabah, pendistribusian beras untuk masyarakat miskin yang rawan pangan, pemupukan stok nasional untuk berbagai keperluan publik menghadapi keadaan darurat dan kepentingan publik lainnya dalam upaya mengendalikan gejolak harga. Dengan kondisi ini gerak lembaga Bulog akan lebih fleksibel dan hasil dari aktivitas usahanya sebagian dapat digunakan untuk mendukung tugas publik, mengingat semakin terbatasnya dana pemerintah di masa mendatang. Dengan kondisi tersebut diharapkan perubahan status Bulog menjadi Perum dapat lebih menambah manfaat kepada masyarakat luas (Bulog, 2012).
Didalam lingkungan Perum Bulog khususnya dalam penyimpanan komodititas di gudang-gudang, sanitasi lingkungan dianalogikan sebagai usaha pengendalian dari semua factor-faktor lingkungan fisik komoditas yang disimpan di dalam gudang yang mungkin dapat menimbulkan hal-hal yang merugikan atau merusak komoditas yang disimpan. Lingkungan gudang dalam ini dapat dikategorikan sebagai lingkungan fisik seperti : Gudang, air, udara, temperature, tanah serta interaksi satu sama lainnya (Bulog, 2012).


Tujuan
Adapun tujuan kunjungan ke perum Dolog ini adalah untuk mengetahui bagaiman cara-cara penggudangan beras yang selama ini dilakukan.

Pembahasan
Berdasarkan dari hasil kunjungan ke Dolog pada hari kamis, banyak ilmu yang didapatkan, seperti bagaimana cara penumpukan beras dengan baik, cara pengendalian hama yang merusak beras, kondisi gudang dan lain sebagainya.
Berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Mahyudi pada saat itu dibawah penumpukan beras digunakan flonder atau palet yang terbuat dari kayu keras sehingga dapat menahan beban dalam sekian  ton beras. Penumpukan beras yang dilakukan pada dolog ini dengan menggunakan kunci lima, dengan tujuan untuk mempermudah perhitungan dan memperkokoh tumpukan. Beras yang disimpan pada gudang dolog ini menggunakan kemasan karung per 50 kg. Suhu gudang ini selalu dijaga, agar tidak terjadi kelembaban, dindingnya itu terbuat dari seng dan sebagian beton an juga dilengkapi dengan lampu-lampu agar dapat menjaga kestabilan suhunya.
Hama yang biasanya terdapat pada gudang ini seperti burung, dan serangga-serangga yang terdapat didalam beras. Biasanya cara pengendalian hama tersebut adalah dengan cara fumigasi. Dimana sebelum dilakukan penyemprotan, tumpukan beras terlebih dahulu ditutup dengan plastik besar, supaya gas-gas yang disemprot itu tidak mengenai beras yang sedang disimpan, hal ini dapat membahayakan jika sampai dikomsumsi oleh masyarakat.
            Kapasitas penampungan beras pada gudang ini adalah 3500 ton per gudang. Umunya beras yang terdapat pada gudang ini adalah beras aceh dan beras Vietnam, beras Vietnam lebih putih daripada beras aceh akan tetapi tidak memiliki rasa atau hambar, sedangkan beras aceh, walaupun tak sebagus beras Vietnam, tapi memiliki rasa dan enak jika dikonsumsi.
Berdasarkan hasil pengamatan, gudang dolog ini mempunyai konstruksi yang bagus, dapat dilihat pada Lampiran 1.

Kesimpulan
1.      Gudang dolog ini mempunyai kapasitas tampungan berasnya berkisar 3500 ton.
2.      Beras yang ada digudang ini langsung diambil dari kilang padi yang ada di masyarakat setempat.
3.      Pada penumpukan beras, gudang dolog memakai kunci lima dengan tujuan memperkokoh tumpukan dan mempermudah perhitungan.
4.      Cara pengendalian serangga hama gudang yang ada pada gudang dolog ini dengan cara fumigasi.


















Lampiran 1
Klasifikasi gudang Dolog Lambaro
No.
Faktor diamati
Informasi/jawaban
 Keterangan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
Kerangka gudang
Bahan atap
Dinding gudang
Tinggi dinding
Bahan lantai
Daya beban lantai
Tinggi lantai dari tanah
Talang air
Bahan pintu
Lebar pintu
Tinggi pintu
Jumlah pintu
Panjang kanopi
Jarak ventilasi dari atap
Jarak ventilasi dari lantai
Lebar teritis
Lebar lorong pokok
Lebar lorong silang
Lebar lorong stafel
Lebar lorong kebakaran
Instalasi air
Instalasi listrik
Instalasi telepon
Instalasi hydrant
Generator
Penangkal petir
Saluran air
Ruang penyangga
Alaram tanda bahaya
Pagar
Kamar mandi
WC
Luas area parkir
Fasilitas standar bongkar muat
Alat timbang berterasah
Bahan flonder
Hygrometer
Thermometer
Tangga staple
Alat pemadam kebakaran
Kotak P3K dan obat
Alat kebersihan
Besi
Seng
Beton dan seng
7 m
Semen
3.500  ton
1 m
Ada
Seng/besi
2.5  m
2.5  m
4
3 m
2 m
7 m
-
1.5 m
1 m
75 cm
75 cm
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Tidak
Ada
Ada
Ada
8-12 m
Ada
Ada
Kayu
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada
Ada


DAFTAR PUSTAKA


Bulog. 2012. Bulog Andalan Bahan Pangan. http://www.bulog.co.id/ [20 januari 2012].
Dragon, S. 2011. Identifikasi Serangga Hama Gudang. http://kuliahitukeren.blogspot.com/2011/12/identifikasi-serangga-hama-gudang.html [20 Januari 2012].

Flint, M.L. and R. van den Bosch. 1990. Pengendalian Hama Terpadu, Sebuah Pengantar. Penerbit Kanisius. Pp.144.

Hartono. 1993. Pengetahuan Dasar dan Usaha Perawatan Beras. Jakarta : Badan Urusan Logistik.

Nyoman I, 2005. Pengendalian Hama Terpadu dan Implementasinya di Indonesia.



Rioardi, 2009. Ordo-Ordo Serangga. http :// rioardi. wordpress. com.[2 januari 2012].

Rokhani, H. 2009. Pengendalian Lingkungan Dalam Bangunan Pertanian. Departemen Teknik Mesin dan Biosistem. ITB. Bogor.


Semangun, H. 1993.  Penyakit-Penyakit Tanaman Pangan di Indonesia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. 449 hal.


Soesarsono. 1988. Teknologi Penyimpanan Komoditas Pertanian. Fakultas Teknologi Pangan. IPB. Bogor

Supriyono. 2003. Melakukan Pengemasan Secara Manual. Proyek Pengembangan Sistem dan Standar Pengelolaan. Departemen Pendidikan Nasional.

Wordpress, 2008. Hama Tumbuhan. http://naynienay.wordpress.com/hama-tumbuhan. [20 januari 2012].

0 komentar:

Poskan Komentar

 

EnDa 4F Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting